Rabu, 30 Juli 2014

Nothing.

Saat kamu tengah sendirian, maksud saya sendirian dalam arti yang sangat sepi. Hanya ada kamu dan udara di sekitarmu, hanya ada kamu dan ruang yang lapang di kepalamu, hanya ada kamu dan kenangan-kenangan yang berlari-lari kecil dengan riang di taman, hanya ada kamu dan dirimu sendiri—juga cerita benci & cinta yang belum usai. Maka kamu pun akan memutar kembali ingatanmu ke masa-masa yang sangat ingin atau mungkin sangat tidak ingin kau beri kesempatan muncul. Dan Bum! Maka mereka memelukmu begitu saja, begitu erat hingga kau bahkan dapat mendengar detak jantungmu sendiri.


Banyak yang bilang menjadi dewasa itu tidak sederhana. Tapi nyatanya dewasa hanyalah soal mencoba berhenti untuk hanya berpikir tentang diri sendiri seorang saja. Mulai mencoba melihat keberadaan orang lain, tidak hanya melihat keberadaan diri sendiri saja. Dan sesungguhnya itu tidaklah serumit yang coba kita pikirkan selama ini. Karena pendewasaan adalah proses yang mungkin akan kita jalani seumur hidup kita, maka berhentilah berpikir bahwa diri kita lebih dewasa dari diri orang lain. Karena kedewasaan tidak pernah akan hadir pada diri yang selalu merasa hebat. Lebih hebat, lebih kuat, lebih segalanya hanyalah ada di pikiran anak kecil. Anak kecil selalu merasa dirinya lebih besar dan kuat dari usianya. Manusia dewasa akan mampu menjadi besar tanpa membesar-besarkan masalah. Manusia dewasa akan mampu menjadi besar tanpa hobi mengecilkan hidup orang lain.

Mungkin beberapa orang ada yang begitu beruntung seperti saya, karena pernah mengalami kehilangan dan beberapa kekecewaan besar. Pernah dibohongi dan dilukai yang tidak sederhana. Sehingga kami mampu menemukan lebih awal; bahwa hidup memang tidak diciptakan untuk mereka yang pandai mengeluh, yang hobi marah, yang dengan mudahnya meninggalkan kekecewaan dihati orang lain, dan suka menyepelekan luka yang pernah dijalani seseorang. 


Tapi mereka hanyalah sedang berproses, yakinlah, tidak akan ada manusia yang hidup tanpa pernah merasa kehilangan atau disakiti. Kelak mereka pun akan memahaminya—dengan jalannya sendiri. Itu kenapa kita tidak perlu melelahkan diri kita sendiri untuk selalu mengingat kebencian dan luka yang pernah ditinggalkan orang lain. Karena apa yang telah terjadi, adalah sesuatu yang darinya kita hanya perlu berlajar dan memahami, bukan sesuatu yang mampu kita hapus atau kita anggap tidak pernah terjadi. Mengingatnya sesekali boleh, tapi jangan sampai kita membiarkan mereka memakan seluruh isi hati kita yang tidak bersalah.

Tidak ada kalimat yang sempurna, seperti tidak ada keputusan yang sempurna. Dan saya rasa, pun tak ada manusia yang mampu sempurna memaafkan dan melupakan. Tetapi, biarkan segala yang masih tersisa tinggal menjadi harta karun yang justru membuat diri kita sendiri semakin kaya.

1 komentar: