Yang berjuang kadang justru tak mendapat apapun, sedang yang biasa saja malah mnedapatkan banyak. Hidup kadang selucu itu.
Aku tidak ingin bertambah kuat, jika ujiannya sesakit ini. Itulah yang terlintas di otakku saat ini tanpa memikirnya lebih jauh bahwa Allah tidak akan pernah memberi cobaan diluar batas kemampuan umatnya. Allah memberi cobaan karena dia yakin kita mampu, Allah ingin mendewasakan kita dengan itu. Tapi, hanya sedikit dari mereka yang mengerti makna itu dan sejenak mengucap "terimakasih Allah untuk cobaan ini".
Selalu ada hal yang harus disyukuri. Slalu. Tak ada yang diciptakan Tuhan untuk menjadi sia-sia, begitupun dengan belajar dari penyesalan. Terlalu banyak pelajaran hidup yang dapat kita petik maknanya, namun hanya sedikit yang mampu mengaplikasikan hal itu dalam hidupnya. Banyak orang berfikir bahwa usaha mereka sudah dirasa cukup, sudah dirasa keras, sudah dirasa baik. Banyak orang berfikir bahwa doa mereka telah dilakukan setiap saat, setiap malam, dengan kesungguhan hati. Namun semua itu rasanya belum ada yang terjadi, belum ada yang menjadi.
Lantas dimana letak salahnya? Jika setiap doa seperti belum dijawab berarti mampumu memang baru sebatas meminta, belum sampai ke tahap menerima. Semesta tak buta, ia tak pula tuli apalagi pelupa. Doamu ada, menunggu dikabulkan pada saatnya.
Sabar adalah salah satu kunci untuk segala hal. Sabar untuk berjuang, sabar untuk berhasil, sabar untuk dikabulkannya doa, dan sabar untuk apapun yang kamu anggap baik. Sabar itu pelan-pelan. Air yang habis dilempar batu pun butuh waktu untuk tenang, setelah ia beriak bergelombang.
Hidup akan terus berjalan, berjalan untuk terus mengerti bahwa kenyataan kadang tak sesuai dengan harapan. Kenyataan itu pahit, seperti obat. Hidup sedang ingin menyembuhkanmu. Jika harus memilih, aku ingin pulang sekarang. Berhenti sejenak memikirkan hal-hal yang bahkan hanya membuatku lemah, namun pulang pun tidak akan membuat masalah begitu saja baik. Aku memilih untuk meneruskan untuk jalan, meskipun harus pulang.
Saat ini mungkin rasanya random. "Pengen ke puncak gunung terus teriak sekenceng kencengnya. Penuh sesak". Tapi teriak hanya akan melegakan saja, tapi tak menyelesaikan.
Hingga akhirnya aku mengerti bahwa dari semua masalah hidup, tempat terbaik untuk berkeluh kesah adalah Allah. Allah adalah pendengar cerita paling sempurna, selalu ada, dan selalu memberi lega setelahnya.