Saat kamu tengah sendirian,
maksud saya sendirian dalam arti yang sangat sepi. Hanya ada kamu dan udara di
sekitarmu, hanya ada kamu dan ruang yang lapang di kepalamu, hanya ada kamu dan
kenangan-kenangan yang berlari-lari kecil dengan riang di taman, hanya ada kamu dan dirimu sendiri—juga cerita benci
& cinta yang belum usai. Maka kamu pun akan memutar kembali ingatanmu ke
masa-masa yang sangat ingin atau mungkin sangat tidak ingin kau beri kesempatan muncul. Dan Bum! Maka
mereka memelukmu begitu saja, begitu erat hingga kau bahkan dapat mendengar detak jantungmu
sendiri.
Banyak yang bilang menjadi
dewasa itu tidak sederhana. Tapi nyatanya dewasa hanyalah soal mencoba berhenti
untuk hanya berpikir
tentang diri sendiri seorang saja. Mulai mencoba melihat keberadaan orang lain,
tidak hanya melihat keberadaan diri sendiri saja. Dan sesungguhnya itu tidaklah
serumit yang coba kita pikirkan selama ini. Karena pendewasaan adalah proses
yang mungkin akan kita jalani seumur hidup kita, maka berhentilah berpikir
bahwa diri kita lebih dewasa dari diri orang lain. Karena kedewasaan tidak
pernah akan hadir pada diri yang selalu merasa hebat. Lebih hebat, lebih kuat,
lebih segalanya hanyalah ada di pikiran anak kecil. Anak kecil selalu merasa
dirinya lebih besar dan kuat dari usianya. Manusia dewasa akan mampu menjadi
besar tanpa membesar-besarkan masalah. Manusia dewasa akan mampu menjadi besar
tanpa hobi mengecilkan
hidup orang lain.
Mungkin beberapa orang ada yang begitu
beruntung seperti saya, karena pernah mengalami kehilangan dan beberapa
kekecewaan besar. Pernah dibohongi dan dilukai yang tidak sederhana. Sehingga
kami mampu menemukan lebih awal; bahwa
hidup memang tidak diciptakan untuk mereka yang pandai mengeluh, yang hobi
marah, yang dengan mudahnya meninggalkan kekecewaan dihati orang lain, dan suka
menyepelekan luka yang pernah dijalani seseorang.
Tapi mereka hanyalah sedang
berproses, yakinlah, tidak akan ada manusia yang hidup tanpa pernah merasa
kehilangan atau disakiti. Kelak mereka pun akan memahaminya—dengan jalannya
sendiri. Itu kenapa kita tidak perlu melelahkan diri kita sendiri untuk selalu
mengingat kebencian dan luka yang pernah ditinggalkan orang
lain. Karena apa yang telah terjadi, adalah sesuatu yang darinya kita hanya
perlu berlajar dan memahami, bukan sesuatu yang mampu kita hapus atau kita
anggap tidak pernah terjadi. Mengingatnya sesekali boleh, tapi jangan sampai
kita membiarkan mereka memakan seluruh isi hati kita yang tidak bersalah.
Tidak
ada kalimat yang sempurna, seperti tidak ada keputusan yang sempurna. Dan saya
rasa, pun tak ada manusia yang mampu sempurna memaafkan dan melupakan. Tetapi,
biarkan segala yang masih tersisa tinggal menjadi harta karun yang justru
membuat diri kita sendiri semakin kaya.
